RSS

ZAT ADITIF PADA MAKANAN, ZAT ADIKTIF, DAN PSIKOTROPIKA

        1. ZAT ADITIF PADA MAKANAN
        Bahan kimia yang ditambahkan dalam bahan makanan sering disebut Zat Aditif. Zat aditif yang ditambahkn dalam bahan makanan harus aman digunakan, dan tidak boleh mengganggu kesehatan serta merusak makanan. Pada umumnya, penggunaan zat aditif pada makanan relatif sedikit dan secukupnya. Penggunaan zat aditif melebihi batas penggunaan yang diijinkan dapat menimbulkan, membahayakan, dan merugikan kesehatan.
         Bahan aditif sengaja ditambahkan pada produk makanan dengan tujuan: memberikan daya tarik pada penampilan makanan, lebih awet saat disimpan lama, supaya lebih sedap bau dan rasanya, dan untuk mempertahankan nilai gizi. Pada umumnya zat aditif dikelompokkan menjadi 2, yaitu alami dan buatan atau sintetis. Jenis-jenis zat aditif tersebut sebagai berikut.
        1.      Bahan Pewarna
        Tujuan penambahan bahan pewarna ke dalam bahan makanan adalah untuk menambah daya tarik makanan yang akan disajikan, sehingga dapat menambah selera makan.
        a.       Bahan Pewarna alami
        Beberapa bahan pewarna alami yang bisa digunakan dalam bahan makanan dan telah mendapat ijin dari Depkes RI antara lain seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini.
        No.
        Zat Warna
        Nama
        No. Indeks
        1.
        Merah
        Karmin
        Alkanat
        75470
        75520
        2.
        Kuning
        Kurkumin
        Karoten
        77499
        75130
        3.
        Hijau
        Klorofil
        75810
        4.
        Hitam
        Besi oksida
        77499

        Selain Zat warna di atas, masih ada beberapa bahan pewarna alami yang biasa dipakai dalam mengolah makanan.
        Bahan-bahan pewarna tersebut sebagai berikut.
        No.
        Nama
        Warna
        1.
        Daun suji
        Hijau
        2.
        Daun katuk
        Hijau
        3.
        Daun pandan
        Hijau
        4.
        Kunyit
        Kuning
        5.
        Wortel
        Kuning merah (Orange)
        6.
        Bit
        Merah
        7.
        Buah cokelat
        Cokelat

        Penambah zat pewarna alami pada makanan kebanyakan tidak menimbulkan efek samping, bahkan mungkin dapat memberi manfaat bagi tubuh, misalnya Kunyit. Kekurangan dari bahan pewarna alami sebagai berikut.
        1)      Bahan makanan kehilangan warna aslinya saat mengolah makanan diolah
        2)       Bahan pewarna alami jumlahnya terbatas
        3)      Bahan pewarna alami mudah rusak atau tidak tahan lama karena mengalami bproses pembusukan
        4)      Warna yang dihasilkan kurang kuat
        Berdasarkan kelemahan-kelemahan di atas, maka dicari alternative lain sebagai pengganti pewarna alami, yaitu dengan menggunakan pewarna buatan. Pewarna buatan sering ditambahkan ke dalam bahan makanan untuk mengembalikan warna makanan dan mendapatkan aneka jenis warna makanan.
        b.      Bahan Pewarna buatan
        Bahan pewarna buatan sengaja di tambahkan ke dalam bahan makanan dengan tujuan untuk memperoleh makanan dalam aneka warna daripada warna makanan yang sesungguhnya.
        Beberapa bahan pewarna buatan yang di gunakan untuk pewarnaan bahan makanan  yang di ijinkan oleh Depkes RI antara lain seperti dalam tabel di bawah ini :
        Zat Warna
        Nama
        Indeks
        Merah

        Kuning
        Orange
        Biru

        Erytrosin
        Karmoisin
        Tartrazine
        Sunset Yellow
        Brilliant Blue
        Indigokarmin
        45430
        14720
        19140
        15985
        42090
        42090

        Adapun bahan-bahan pewarna sintetis/buatan yang diperkenankan sebagai berikut.
        No.
        Nama
        Warna
        Batasan ADI
        1.
        2.
        3.
        4.
        5.
        6.
        7.
        8.
        FD dan Red No.3
        FD dan Red No. 2
        FD dan C Blue No.2
        FD dan Yellow No. 6
        FD dan Yellow No.5
        FD dan Blue No. 1
        FD dan C Green No. 3
        FD dan C Eritrosin
        Merah
        Merah lembayung
        Biru indigo
        Jingga kekuningan
        Kuning jingga
        Hijau kebiruan
        Hijau tua
        merah
        1,25 mg
        1,5 mg
        2,5 mg
        5,0 mg
        7,5 mg
        12,5 mg
        12,5 mg
        100 mg

        Fd (Food, Drinks, and Cosmetics) adalah kode pewarna makanan dan kosmetik yang boleh dikonsumsi masyarakat karena tidak beracun
        c.       Bahan pemutih
        Bahan pemutih berguna untuk memperbaiki warna bahan makanan tanpa merusak komposisinya. Contohnya sebagai berikut.
        1)      Hidrogen peroksida, digunakan untuk memutihkan warna susu yang akan dipakai pada pembuatan keju.
        2)      Natrium hipoklorit, merupakan pemutih tepung pati dan digunakan untuk memudahkan tepung pati tersebut agar mudah larut dalam air.
        Salah satu cirri yang menjadipatokan untuk mengetahui jenis pewarna tersebut, adalah dengan melihat corak warnanya. Apabila berwarna cerah menyolok biasanya makanan tersebut menggunakan pewarna yang dilarang, seperti : Rodhamin B untuk warna merah dan Methanil Yellow untuk warna kuning.
        d.      Efek Samping Penggunaan Zat Warna
        Zat warna
        Batasan DepKes RI
        (per kg makanan)
        Batasan ADI
        (per kg bobot badan)
        Tartrazine
        Karmiosin
        Eritrosin
        30 mg-300 mg
        50 mg-300 mg
        30 mg-300 mg
        0-7,5 mg
        0-4 mg
        0-0,6 mg
         Efek negative zat warna bila melebihi batasan tersebut adalah dapat menyebabkan kanker/bersifat karsinogen, terutama kanker hati, kanker kandungan kemih, dan kelainan pada ginjal.
        2.      Bahan Pemanis
        Bahan pemanis adalah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam bahan makanan untuk memberikan rasa manis
        a.       Bahan Pemanis Alami
        1)      Gula pasir
        2)      Gula jawa/kelapa
        3)      Gula aren
        b.      Bahan Pemanis buatan
        1)      Siklamat
        2)      Sakarin
        3)      Kalium Assesulfam
        4)      Aspartam
        5)      Dihidrikalkon
        6)      Flavonoid neohesperidin

        3.      Bahan Pengawet
        a.       Bahan Pengawet Alami
        1)      Garam dapur
        2)      Gula tebu
        3)      Lada dan Cuka
        b.      Bahan Pengawet Buatan
        1)      Butil Hidroksi Anisol (BHA) dan Butil Hidroksi Tolvena (BHT)
        2)      Natrium Benzoat
        3)      Asam Sorbat
        4)      Natrium Propionat dan Kalsium Propionat
        5)      Etil Format
        c.       Efek samping
        1)      Asam Salsilat
        2)      Borak
        3)      Formalin
        4.      Bahan Penyedap
        Berguna untuk melezatkan makanan dan menimbulkan rasa enak. Terasi, garam dapur (NaCI) dan cuka merupakan penyedap alami.penyedap rasa Sintetis adalah MSG (Monosodium Glutamat), penggunaan MSG yang berlebih menyebabkan pusing bahkan dapat memicu tumbuhnya kanker.
        5.      Penambah Nilai Gizi
        a.       Penyakit Diabetes Melitus
        b.      Penyakit Gondok
        c.       Penyakit Xeroftalmia
        ·   Apa yang dimaksud dengan Psikotropika?
                 Menurut Undang Undang RI No.5 tahun 1997 tentang psikotropika, pada pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis yang bukan narkotika yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan prilaku.
                 Zat psikoaktif mempunyai sifat adiksi dependensi (menimbulkan kecanduan dan ketergantungan bila seseorang mengggunakannya). Tidak semua zat atau obat menimbulkan adiksi dan dependensi pada pemakainya kecuali zat psikoaktif.
        ·   Apa Saja Golongan Psikotropika?
                 Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, ada empat golongan Psikotropika:
        a.      Psikotropika golongan 1
                 Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Seperti: Ekstasi (Termasuk N-etil MDA dan MMDA).
        b.      Psikotropika golongan II
                 Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Ini meliputi deksamfitamina dan fenetilina, amfetamin (nama lain dari jenis ini adalah shabu-shabuSS), pada pecandu yang sangat berat, sering ditemukan pada saat sipecandu dalam keadaan normal tetap merasakan seperti mereka dalam keadaan atau kondisi mabuk akibat pengaruh dari zat adiktif ini (flash back), sepertinya mereka tidak mau meningglkandunia mereka on berat atau mabuk berat. salah satu dari prilaku mereka dalam keadaan ini seperti: berbicara sendiri, paranoid yang tidak berhenti, dll.

        c.       Psikotropika golongan III
                 Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya seperti amobarbital, buprenorfina dan butalbital.
        d.      Psikotropika golongan IV
                 Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Ini meliputi diazepam, pil KB, magadon, nitrazepam dan nordazepam.

        ·   Apa yang dimaksud dengan Narkotika?
                 Berdasarkan UU No. 22 tahun 1997, yang dimaksud dengan narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman atau bukan sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
                 Berdasarkan UU No. 5 tahun 1997, yang dimaksud dengan psikotropika adalah zat atau obat alamiah maupun sintesis yangbukan narkotika, berhasiat psikoaktif (sifat yang dapat mempengaruhi otak atau mental dan prilaku serta mampu menimbulkan adiksi dan dependensi yakni menimbulkan kecanduan dan ketergantungan bila seseorang menyalahgunakannya) melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan prilaku.
                 Bahan adiktif adalah Bahan atau zat lain (bukan narkotika dan psikotropika) yang dapat menimbulkan perubahan pada prilaku dan dapat menimbulkan ketergantungan.

        ·   Kenapa disebut dengan narkotika?
                 Disebut narkotika karena golongan zat tersebut memiliki sifat psikoaktif yakni mempengaruhi otak (susunan saraf pusat) yang selain menyebabkan perubahan prilaku dan ketagihan dan atau ketergantungan, serta juga menyebabkan narkose (pembiusan) khususnya opium dan heroin, yaitu:
        a.       mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri (analgetik)
        b.      menurunkan atau mengubah kesadaran dan berpengaruh menidurkan (hipnotik)
                 Sebenarnya ganja dan kokain masing-masing mempunyai khasiat farmakologik yang agak berbeda dengan opium/heroin, namun ada persamaan, sehingga menurut Undang Undang dimasukkan kedalam golongan narkotika.
        Apa saja Golongan Narkotika?
                 Menurut UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika pasal 2, dapat dijelaskan pula bahwa narkotika dapat digolongkan kedalam 3 golongan sebagai berikut:
        -          Narkotika golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak ditujukan untuk terapi dan pengobatan, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk menyebabkan ketergantungan. Contohnya: heroin/putaw, kokain, ganja.
        -          Narkotika golongan II adalah narkotika yang berhasiat pengobatan sebagai pilihan terahir dan dapat digunakan sebagai terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya: morfin, petidin, turunan/garam narkotika dalam golongan tersebut.



        ùDefinisi Obat Terlarang
                    Penyalahgunaan obat atau "drug abuse" berasal dari kata "salah guna" atau "tidak tepat guna" merupakan suatu penyelewengan penggunaan obat bukan untuk tujuan medis/pengobatan atau tidak sesuai dengan indikasinya.
                    Dalam percakapan sehari-hari sering kita menggunakan kata narkotik sebagai satu-satunya obat terlarang. Apakah memang demikian? Ternyata dari istilah-istilah yang sedang populer sekarang seperti NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif lainya) atau NARKOBA (Narkotika, Psikotropika, dan bahan bahaya lainnya), maka obat terlarang itu juga mencakup psikotropika, alkohol, tembakau, dan zat adiktif dan yang memabukkan lainnya. Obat-obat ini apabila digunakan secara tidak benar akan menyebabkan perubahan pikiran, perasaaan, dan tingkah laku pemakainya serta menyebabkan gangguan fisik dan psikis dan kerusakkan susunan saraf pusat bahkan sampai menyebabkan kematian.
                    Secara farmakologik, obat-obatan ini dapat menyebabkan terjadinya toleransi, depedensi atau ketergantungan berupa adiksi dan habituasi, intoksikasi dan gejala putus obat (withdrawal syndrome).
                    Dalam bidang hukum juga sudah dikeluarkan dua undang-undang, yaitu: UU Narkotika No. 22 Tahun 1997 dan UU Psikotropika No. 5 Tahun 1997. Dalam undang-undang tersebut, narkotika dibedakan menjadi 3 golongan, masing-masing: Narkotika golongan I (tidak digunakan untuk tujuan medis, seperti morfin, heroin, kokain dan kanabis). Narkotika golongan II (digunakan untuk terapi sebagai pilihan akhir karena adanya efek ketergantungan yang kuat, seperti petidin, metadon), dan Narkotika golongan III (digunakan untuk terapi karena efek ketergantungannya kecil, seperi kodein, doveri).
                    Sedangkan dalam UU Psikotropika didefinisikan sebagai zat atau obat bukan narkotik tetapi berkhasiat psikoaktif berupa perubahan aktivitas mental/tingkah laku melalui pengaruhnya pada susunan saraf pusat serta dapat menyebabkan efek ketergantungan.

        ùPsikotropika dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu:
        1.      Psikotropika yang tidak digunakan untuk tujuan pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat, contoh: LSD, MDMA dan mascalin.
        2.      Psikotropika yang berkhasiat terapi tetapi dapat menimbulkan ketergantungan seperti amfetamin.
        3.      Psikotropika dari kelompok hipnotik sedatif, seperti barbiturat. Efek ketergantungannya sedang.
        4.      Psikotropika yang efek ketergantungannya ringan, seperti diazepam, nitrazepam.
        ùBahaya penggunaan obat terlarang
        Bahaya penggunaan obat terlarang ini dapat dibedakan menjadi bahaya dari segi hukum dan bahaya dari segi kesehatan. Seperti diketahui dari UU Narkotika dan UU Psikotropika maka semua orang yang terlibat dapat dikenai sanksi berupa hukuman penjara, denda, bahkan sampai hukuman mati. Mereka yang dapat dijerat hukum melalui undang-undang tersebut mencakup produsen, penyalur dan pemakai dengan gradasi (tingkatan) hukuman dan denda yang bervariasi. Bahkan orang-orang yang mempersulit penyelidikan pun dapat dijerat hukum. Denda maksimal yang tercantum dalam undang-undang tersebut adalah sebesar Rp750 juta, sedangkan hukuman maksimalnya adalah mati.
                    Bahaya dari segi kesehatan sangat berbeda, tergantung dari jenis obat yang digunakan. Yang pasti semua obat terlarang itu menyebabkan adiksi dan gejala putus obat apabila dihentikan pemakaiannya. Adiksi yang ditimbulkan menyebabkan si pemakai menjadi ketagihan dan membutuhkan obat tersebut terus-menerus. Ketergantungan ini mengganggu fisik dan psikisnya.
                    Intoksikasi timbul akibat dosis yang dipakai berlebihan sehingga terjadi keracunan. Intoksikasi ini umumnya menyebabkan kematian. Gejala putus obat (withdrawal syndrome) adalah, gejala-gejala yang timbul akibat dihentikannya pemakaian obat terlarang tersebut. Dalam keadaan ini maka fungsi normal tubuhnya menjadi terganggu seperti, berkeringat, nyeri seluruh tubuh, demam, mual sampai muntah. Gejala ini akan menghilang kalau diberikan lagi obat terlarang itu. Semakin lama gejala ini akan semakin hebat. Secara farmakologik, maka efek yang ditimbulkan oleh obat terlarang itu dapat dikelompokkan menjadi depresan, stimulan, dan halusinogen.
        Dalam kelompok depresan, maka obat terlarang ini akan menyebabkan depresi (menekan) aktivitas susunan saraf pusat. Pemakai akan menjadi tenang pada awalnya, kemudian apatis, mengantuk dan tidak sadar diri. Semua gerak refleks menurun, mata menjadi sayu, daya penilaian menurun, gangguan terhadap sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah). Termasuk kelompok depresan ini ialah opioid seperti heroin, morfin dan turunannya, sedativa seperti barbiturat dan diazepam, nitrazepam dan turunannya.
                    Kelompok stimulan merupakan obat terlarang yang dapat merangsang fungsi tubuh. Pada awalnya pemakai akan merasa segar, penuh percaya diri, kemudian berlanjut menjadi susah tidur, perilaku hiperaktif, agresif, denyut jantung jadi cepat, dan mudah tersinggung. Termasuk dalam kelompok ini contohnya adalah kokain, amfetamin, ekstasi, dan kafein.
                    Kelompok halusinogen merupakan kelompok obat yang menyebabkan adanya penyimpangan persepsi termasuk halusinasi seperti mendengar suara atau melihat sesuatu tanpa ada rangsang. Persepsi ini menjadi "aneh". Termasuk dalam kelompok ini contohnya ialah LSD, meskalin, mariyunana/ganja. Pemakai menjadi curiga berlebihan, mata menjadi merah dan agresif serta disorientasi
                    Cara-cara pemakaian obat tersebut di atas juga sangat bervariasi, dari secara oral sampai suntikan. Menyangkut cara penyuntikan, maka bahaya yang timbul adalah kemungkinan terjadinya infeksi pada tempat suntik, tertularnya radang hati (hepatitis virus B) dan HIV/AIDS. Sedangkan cara pemakaian yang dihirup melalui hidung dapat menyebabkan pendarahan di hidung (epistakis).
                    Di samping obat-obat terlarang tersebut di atas, juga pemakaian tembakau dan alkohol sangat berbahaya bagi kalangan remaja/pelajar. Tembakau yang dihisap sebagai rokok, dari penelitian ilmiah ternyata mengandung bahan aktif lebih dari 3000 macam, termasuk nikotin, tar, CO2, CO, hidrogen sianida dan tembaga. Seorang perokok akan dihadapkan pada resiko rusaknya jaringan paru-paru, sesak napas, kanker paru dan penyakit jantung koroner. Pada intoksikasi akut dapat menyebabkan kematian. Sekarang sudah banyak negara melarang pemakaian tembakau di depan umum dan dalam setiap bungkus rokok tercantum bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh rokok.
                    Alkohol merupakan zat yang mengandung etanol dengan fungsi menekan sistem susunan saraf pusat. Dosis rendah memang membuat tubuh menjadi segar karena bersifat merangsang. Namun pada dosis lebih besar akan timbul berbagai macam gangguan berupa rusaknya jaringan otak, gangguan daya ingat, gangguan jiwa, mudah tersinggung, menurunnya koordinasi otot (jalan jadi sempoyongan), reaksi refleks menurun, kelumpuhan bahkan menyebabkan kematian.
                    Jadi terlihat jelas bahwa semua obat terlarang ini lebih banyak mudaratnya (ruginya) dari pada manfaatnya, karena itu harus dijauhi oleh para remaja/pelajar.


        ùUpaya pencegahan.
                    Moto bahwa, "Pencegahan lebih baik dari mengobati", akan benar-benar terbukti dalam kasus pemakaian obat-obat terlarang. Mereka yang sudah terjerumus sampai menimbulkan ketergantungan akan lebih sulit ditangani dan sukar diberikan pengarahan. Umumnya sukar untuk menghentikan pemakaian obat. Jalan satu-satunya adalah perawatan di RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan Obat) dengan diusahakan pengurangan dosis sedikit demi sedikit sampai akhirnya pemakaiannya berhenti sama sekali.
                    Tentunya biaya perawatan ini sangat mahal sekali. Dalam hal ini maka usaha pencegahan menjadi sangat penting sekali. Usaha pencegahan yang dikenal dengan "prevensi primer", yaitu pencegahan yang dilakukan pada saat penyalahgunaan belum terjadi. Usaha ini antara lain:
        1. Pembinaan kehidupan beragama, baik di sekolah, keluarga dan lingkungan.
        2. Adanya komunikasi yang harmonis antara remaja dengan orang tua dan guru serta lingkungannya.
        3. Selalu berperilaku positif dengan melakukan aktivitas fisik dalam penyaluran energi remaja yang tinggi seperti berolahraga.
        4. Perlunya pengembangan diri dengan berbagai program/hobi baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungan sekitar.
        5. Mengetahui secara pasti gaya hidup sehat sehingga mampu menangkal pengaruh atau bujukan memakai obat terlarang.
        6. Saling menghargai sesama remaja (peer group) dan anggota keluarga.
        7. Penyelesaian berbagai masalah di kalangan remaja/pelajar secara positif dan konstruktif.
        Dengan berbagai usaha tersebut semoga kalangan remaja/pelajar dapat terhindar dari penyalahgunaan obat terlarang. Masa remaja akan dapat dijalani dengan baik serta membuahkan masa dewasa yang sehat dan bertanggung jawab.


        ·         PROGRAM KERJA POKJA NAZA

         1. Tindakan Pre-emtif

        • Penyuluhan bagi siswa oleh guru Bimbingan dan Konseling, dikoordinasikan oleh Bidang Penyuluhan Siswa.
        • Ceramah bagi orang tua siswa mengenai NAZA ditinjau dari segi medis, rohani dan psikologis.
        • Informasi tentang NAZA melalui Program Pembinaan Kepribadian Siswa, majalah sekolah dan majalah dinding.
        • Melibatkan anak-anak OSIS menjadi tenaga penyuluh bagi teman-teman sebaya

        2. Tindakan Represif

        • Penggeledahan di sekolah secara bergiliran dan rutin.
        • Orang tua siswa menandatangani surat pernyataan sebagai berikut: Memberikan izin kepada pihak sekolah BPK PENABUR KPS Jakarta untuk sewaktu-waktu, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada orang tua melakukan penggeledahan atau razia terhadap anak/anak wali yang bersangkutan.
        • Tes lari oleh guru olahraga.
        • Tes urine/pemeriksaan laboratorium

        3. Tindakan Kuratif

        • Pokja tidak melayani rehabilitasi. Bagi siswa yang kedapatan menggunakan NAZA akan langsung dirujuk ke tempat-tempat rehabilitasi yang sudah ada.
        • Perhatian khusus pada anak-anak yang sikapnya berubah:
          • - Datang terlambat ke sekolah
          • - Suka berantem
          • - Kurang ajar kepada guru
          • - Jalan sempoyongan

        4. Tindakan Preventif

        • Bekerja sama dengan tim satpam, RT/RW setempat.
        • Bekerja sama dengan tim PSB untuk mendapat persetujuan dari orang tua guna pencegahan atas keterlibatan anak pada NAZA, melalui penandatanganan surat pernyataan pada PSB/Pendaftaran Ulang.
        • Bekerja sama dengan Kepala Sekolah dan Koordinator Kesiswaan dalam hal memasyarakatkan Citra Siswa agar para siswa mengenal, memahami, dan melaksanakannya di dalam kehidupan sehari-hari.
        Orang tua siswa menandatangani surat pernyataan sebagai berikut:
        1. Memberikan izin kepada pihak BPK PENABUR KPS Jakarta untuk sewaktu-waktu, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada orang tua siswa melakukan tes urine/pemeriksaan laboratorium penyalahgunaan obat kepada anak/anak wali yang bersangkutan.
        2. Bersedia menerima sanksi yang terdapat dalam tata tertib siswa, apabila anak/anak wali yang bersangkutan terlibat NAZA
        Pelaksanaannya dengan cara sebagai berikut:
        1. Dibacakan 1 kali dalam 1 bulan pada saat upacara bendera.
        2. Ditempel di dinding setiap ruang kelas.

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    0 komentar:

    Poskan Komentar